Hidangan Segar Dari Kebun

             Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melakukan program penguatan kebun pangan lokal untuk perempuan yang bertujuan untuk membangun ketahanan pangan keluarga[1]. Program yang diluncurkan oleh KemenPPPA pada awal tahun 2026 ini berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk membangun percontohan di lima Kabupaten Nusa Tenggara Timur, Solo, Purwakarta (Jawa Barat), Bone, dan Maluku Utara[2]. Selaras dengan program pemerintah ini, saya menjumpai beberapa NGO (Non-Governmental Organization)  yang sudah melakukan program serupa. Salah satunya adalah Yayasan Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM), NGO yang melakukan program pemberdayaan ekonomi melalui kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah berbasis pertanian organik yang sudah berjalan di banyak desa di Toraja dan Mamuju sejak tahun 1983. Kegiatan berkebun ini tidaklah sederhana, apalagi hasil riset tentang ketahanan pangan dengan pemanfaatan lahan pekarangan rumah di Laos dalam kurun waktu 2019-2022, menunjukkan penurunan 21% tingkat kerawanan pangan yang disebabkan oleh peningkatan 12% kebun pangan rumah tangga[3]. Riset ini juga menyatakan bahwa pemanfaatan pekarangan rumah berkontribusi pada ketahanan pangan, nutrisi keluarga dan peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga. Membaca hasil riset ini, saya menjadi sangat bersemangat datang ke desa-desa dampingan MPM.

Pemanfaatan pekarangan rumah
Pada hari yang sejuk, mobil yang kami kendarai melaju melewati sawah-sawah yang sedang menunggu panen tiba, kemudian kondisi jalan mulai berkelok dan menanjak dengan pepohonan di kanan kiri. Saat kami tiba di desa tujuan, disambut oleh perempuan-perempuan hebat yang sudah menunggu kedatangan kami. Tak jauh dari kami berdiri, terdapat pembibitan sayur, tanaman sayuran, kolam ikan dan diseberangnya ada pupuk kompos hasil buatan sendiri. Usai melihat kebun sayur, kami duduk melingkar bersama sekitar dua puluhan perempuan. Mengawali perbincangan, terdengar jelas bahwa keinginannya sederhana agar kebutuhan sayur dapat dipenuhi dari kebun pekarangan rumah. Untuk itu, para perempuan berkelompok membuat rencana pemanfaatan pekarangan rumah. Luas pekarangan bervariasi, namun rata-rata sekitar 28m2. Pertanian organik dipilih untuk memelihara siklus kehidupan, dari sampah dapur dibuat kompos untuk pupuk tanaman. Pada hari yang ditentukan para perempuan bergerak melalui demplot (demonstration plot) untuk kemudian dipraktekan di pekarangan rumah masing-masing. Ragam sayuran yang dipilih sesuai dengan musim saat tanam; cabai, terong, daun bawang, sawi dan sayuran lainnya. Perbincangan sangat runut dalam memaparkan proses dan mereka sangat antusias menceritakan pengalaman berkebun di pekarangan rumah. “Kami tak lagi beli sayur di tukang sayur keliling, karena tinggal petik dari kebun. Hanya beli lauk hewani yang hanya kadang-kadang kami beli,” kata seorang Ibu membuka perbincangan. Dilanjutkan seorang Bidan Puskesmas yang hadir, menceritakan bahwa pekarangan di Puskesmas pun dibangun demplot untuk memberikan pembelajaran mengenai nutrisi sehat untuk bayi, maka para Ibu mendapatkan wawasan langsung serta dapat mengambil benih bahkan bonusnya petik sayur. “Dengan penyuluhan yang sering kami berikan tentang nutrisi dan tanam sayur di pekarangan rumah, hasilnya angka stunting 0 di desa kami,” tepuk tangan menyambut penjelasan Bidan. “Saya bisa nabung dari rata-rata harian belanja sayur dan bumbu dari tukang sayur keliling sekitar Rp 30.000 untuk anak sekolah. Bahkan sekarang tukang sayur beli sayur dari kami kalau hasil panen kami melimpah, organik loh,” penjelasan seorang ibu sekertaris kelompok di daerah Toraja Utara.

 

Berkebun atau pemanfaatan pekarangan rumah sudah sekian lama dilakukan oleh setiap keluarga di Indonesia. Ada yang menanam aneka tanaman hias atau di campur dengan menanam kebutuhan dapur. Menurut penuturan para perempuan yang saya temui di beberapa desa di Toraja, mereka sudah menanam sayur untuk kebutuhan makan keluarga. Hanya saja dengan pendampingan dari MPM, mereka menjadi memahami bahwa berkebun dengan pertanian organik bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan sebuah way of life. Dalam praktiknya, sampah organik diolah menjadi kompos sebagai sumber nutrisi untuk menyuburkan tanah sehingga menghasilkan sayuran dan bumbu segar yang dapat langsung disajikan di meja makan (from garden to table). Sementara itu, beberapa jenis sampah organik yang tidak dapat diolah menjadi kompos masih dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi ayam, ikan, dan hewan lainnya. Dalam lingkup keluarga, perempuan berperan untuk memberikan kecukupan nutrisi dan gizi bagi anggota keluarganya. Konsumsi sayuran organik dirasakan berbeda dengan sayur konvensional lain dalam segi rasa dan tekstur. Alasan kesehatan inilah yang menjadi dasar bagi perempuan untuk memilih pertanian organik dalam berkebun. “Kami tanam jenis sayur, tergantung musimnya. Ada yang bagus saat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau saja. Jadi selalu berbeda-beda,” jelas seorang Ibu yang memberikan konteks berkebun pun beradaptasi terhadap perubahan iklim. 

 

Perbincangan kami pun terhenti ketika estafet jamuan makan siang berhenti di depan kami. “Inilah Bu sayuran hasil panen kami, tidak ada yang beli ini Bu” kata Ibu ketua kelompok. Saya pun melihat ada ragam sayuran rebus dan tumis, sambal serta ikan. Sayuran hijau dan sambal menggugah selera saya, tak butuh waktu lama hidangan segar tersebut pindah ke piring saya.

 

 

Komentar

Postingan Populer