Hidangan Segar Dari Kebun

Kebun di pekarangan rumah.
        Keinginannya sederhana agar kebutuhan sayur dapat dipenuhi dari kebun pekarangan rumah. Untuk itu, para perempuan berkelompok membuat rencana pemanfaatan pekarangan rumah. Luas pekarangan bervariasi, namun rata-rata sekitar 28m2. Pertanian organik dipilih untuk memelihara siklus kehidupan, dari sampah dapur dibuat kompos untuk pupuk tanaman. Pada hari yang ditentukan para perempuan bergerak melalui demplot (demonstration plot) untuk kemudian dipraktekan di pekarangan rumah masing-masing. Ragam sayuran yang dipilih sesuai dengan musim saat tanam; cabai, terong, daun bawang, sawi dan sayuran lainnya. Sewaktu kami duduk melingkar, para perempuan sangat antusias menceritakan pengalaman berkebun di pekarangan rumah. “Kami tak lagi beli sayur di tukang sayur keliling, karena tinggal petik dari kebun. Hanya beli lauk hewani yang hanya kadang-kadang kami beli,” kata seorang Ibu membuka perbincangan. Dilanjutkan seorang Bidan Puskesmas yang hadir, menceritakan bahwa pekarangan di Puskesmas pun dibangun demplot untuk memberikan pembelajaran mengenai nutrisi sehat untuk bayi, maka para Ibu mendapatkan wawasan langsung serta dapat mengambil benih bahkan bonusnya petik sayur. “Dengan penyuluhan yang sering kami berikan tentang nutrisi dan tanam sayur di pekarang rumah, hasilnya angka stunting 0 di desa kami,” tepuk tangan menyambut penjelasan Bidan. “Saya bisa nabung dari rata-rata harian belanja sayur dan bumbu dari tukang sayur keliling sekitar Rp 30.000 untuk anak sekolah. Bahkan sekarang tukang sayur beli sayur dari kami kalau hasil panen kami melimpah, organik loh,” penjelasan seorang ibu sekertaris kelompok di daerah Toraja Utara. 
    Pemanfaatan pekarangan rumah berbasis pertanian organik merupakan kegiatan pemberdayaan ekonomi dari Yayasan Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM), NGO yang sudah melakukan kegiatan tersebut pada banyak desa di Toraja sejak tahun 1983. Selaras dengan program MPM, pada awal tahun 2026 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) melakukan program penguatan kebun pangan lokal untuk perempuan yang bertujuan untuk membangun ketahanan pangan keluarga. Kemen PPPA berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian untuk membangun percontohan di lima Kabupaten Nusa Tenggara Timur, Solo, Purwakarta (Jawa Barat), Bone, dan Maluku Utara. 
       Berkebun atau pemanfaatan pekarangan rumah sudah sekian lama dilakukan oleh setiap keluarga di Indonesia. Ada yang menanam aneka tanaman hias atau di campur dengan menanam kebutuhan dapur. Menurut penuturan para perempuan yang saya temui di Toraja Utara dan Toraja Selatan, mereka sudah menanam sayur untuk kebutuhan makan keluarga. Hanya saja dengan pendampingan dari MPM, mereka menjadi memahami bahwa berkebun dengan pertanian organik bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan sebuah way of life. Dalam praktiknya, sampah organik diolah menjadi kompos sebagai sumber nutrisi untuk menyuburkan tanah sehingga menghasilkan sayuran dan bumbu segar yang dapat langsung disajikan di meja makan (from garden to table). Sementara itu, beberapa jenis sampah organik yang tidak diolah menjadi kompos masih dapat dimanfaatkan sebagai pakan bagi ayam, ikan, dan hewan lainnya. 
    Perempuan berperan untuk memberikan kecukupan nutrisi dan gizi bagi keluarganya. Konsumsi sayuran organik dirasakan berbeda dengan sayur konvensional lain dalam segi rasa dan tekstur. Alasan kesehatan inilah yang menjadi dasar bagi perempuan untuk memilih pertanian organik dalam berkebun. “Kami tanam jenis sayur, tergantung musimnya. Ada yang bagus saat ditanam pada musim hujan atau musim kemarau saja. Jadi selalu berbeda-beda,” jelas seorang Ibu yang memberikan konteks berkebun pun beradaaptasi terhadap perubahan iklim. Perbincangan kami pun terhenti ketika estafet jamuan makan siang berhenti di depan kami. “Inilah Bu sayuran hasil panen kami, tidak ada yang beli ini Bu,” kata Ibu ketua kelompok. Saya pun melihat ada ragam sayuran rebus dan tumis, sambal serta ayam potong sendiri.

Komentar

Postingan Populer